Langsung ke konten utama

Peristiwa Isra' dan Mi'raj dan Bid'ah-bid'ahnya

Peristiwa Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, dimana Rasulullahshalallahu 'alaihi wasallam mendapatkan perintah dari Allah subhanahu wata'ala untuk menunaikan shalat lima waktu. Yang mana perintah ini didapatkan langsung oleh Rasulullah tanpa melalui Malaikat Jibril 'alahis salam melainkan langsung dari Allah subhanahu wata'ala yang menunjukkan keagungan dari ibadah ini dari ibadah lainnya.




 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا

حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Isra' secara literal maknanya mengajak seseorang berjalan di malam hari, adapun menurut istilah ialah perjalanan Jibril bersama Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dari Makkah ke Baitul Maqdis. Dan Mi'raj yaitu alat untuk naik (tangga), sedangkan menurut istilah ialah tanggal yang dipakai naik oleh Rasulullah dari bumi ke langit.

Dalam hadits yang diriwatkan Muslim dari Anas bin Malik Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Jibril membawakan untukku seekor buraq, yaitu sejenis binatang berwarna putih. Binatang itu lebih panjang dari keledai dan lebih pendek daripada baghal. Ia dapat melangkah sejauh mata memandang. Aku menungganginya hingga tiba di Baitul Maqdis dan menambatkannya pada tambatan yang biasanya digunakan para nabi. Aku masuk masjid dan shalat dua rakaat. Ketika aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan susu. Aku memilih susu, Jibril 'alahis salam berkata,
"Engkau memilih yang benar."
 Jibril membawaku ke langit. ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya, "Siapakah engkau?"
"Jibril."
"Siapa yang bersamamu?"
"Muhammad."
"Apakah ia telah diutus?"
"Ya, ia telah diutus."
Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril 'alahis salam minta dibukakan. Ada yang bertanya, "Siapakah engkau?"
"Jibril."
"Siapa yang bersamamu?"
"Muhammad."
"Apakah ia telah diutus?"
"Ya, ia telah diutus."
Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan isa bin Maryam 'alahis salam dan Yahya bin Zakaria 'alahis salam. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. ibril minta dibukakan, ada yang bertanya, "Siapakah engkau?"
"Jibril."
"Siapa yang bersamamu?"
"Muhammad."
"Ia telah diutus?"
"Ya, ia telah diutus."
Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf 'alahis salam. Ternyata ia telah dikaruniai separuh ketampanan penduduk bumi. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebiakan. Aku dibawa ke langit ke langit ke empat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya, "Siapakah ini?"
"Jibril."
"Siapa bersamamu?"
"Muhammad."
"Apakah ia telah diutus?"
"Dia telah diutus."
 Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris 'alahis salam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebikan. Allah Ta'ala berfirman, "Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi." (Maryam[19]:57).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Download Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia Digital DJVU + Reader

Silahkan bagi Antum yang ingin mendownload kamus al-munawwir untuk mengklik link yang tersedia pada akhir posting ini. Kamus al-munawwir ini berformat DJVU, oleh karenanya diperlukan DJVU reader untuk membacanya. Alhamdulillah sudah Ana sisipkan menjadi satu file zip (kamus dan readernya). Semoga bermanfaat dan jangan lupa di share ke shohib Antum. Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia Digital DJVU + Reader Nama File : Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia Digital DJVU + Reader.zip Ukuran : 37.167 kb Download

Hukum Adzan dengan Kaset Rekaman

ADZAN DENGAN KASET REKAMAN  Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi Sekarang ini kita hidup pada era informasi dan globalisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkat nikmat Allah kemudian kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita dapat memperoleh kemudahan-kemudahan dalam hidup, termasuk dalam memanfaatkan hasil teknologi sebagai sarana ibadah. Di antara hasil teknologi yang dimanfaatkan oleh umat Islam sebagai sarana ibadah adalah kaset rekaman yang dipergunakan untuk menyebarluaskan informasi tentang berbagai ajaran Islam kepada masyarakat, menyimpan dan mengumandangkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan juga adzan yang dilantunkan para muadzin baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Adanya fenomena pemanfaatan kaset rekaman untuk mengumandangkan adzan, baik melalui tape record, radio, televisi maupun alat komunikasi lainnya,  mengundang pertanyaan bagi kita tentang hukumnya menurut pandangan syari’at Islam[1]. N...