عن أم المؤمنين أم عبدالله عائشة رضي الله عنها قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد " رواه البخاري ومسلم , وفي رواية لمسلم " من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdullah Aisyah radhiallahu anha, katanya, Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda, "Siapa saja yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami, yang tak ada pedomannya, maka ia tertolak" (Bukhari no 2697, dan Muslim no 1718). Dalam periwayatan Muslim dengan redaksi, "Siapa yang melakukan perbuatan dengan tanpa ada pedoman dari kami, ia tertolak".
![]() |
Sumber: kaahil.wordpress.com |
Syarat pertama adalah konsekuensi dari syahadat la ilaha illallah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya untuk Allah subhanahu wata'ala dan jauh dari syirik kepadaNya.
Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul shalallahu 'alaihi wassalam, mengikuti syariatnya dan meninggalkan bid'ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. Allah subhanahu wata'ala berfirman,
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ
"(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah,
sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati." (Al-Baqarah:112)
Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala. Wahuwa muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti RasulNya shalallahu 'alaihi wassalam.
Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan,
Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala. Wahuwa muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti RasulNya shalallahu 'alaihi wassalam.
Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan,
"Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah subhanahu wata'ala, dan kita tidak menyembah kecuali dengan apa yang Dia syariatkan, tidak dengan bid'ah."Sebagaimana Allah subhanahu wata'ala berfirman,
[فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا [١٨:١١٠
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun
dalam beribadat kepada Tuhannya". (Al-Kahfi:110)
Yang demikian adalah manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat La ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah.
Pada yang pertama, kita tidak menyembah kecuali kepadaNya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam adalah utusanNya yang menyampaikan ajaranNya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta menaat perintahnya. Beliau telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala, dan beliau melarang kita dari hal-hal baru atau bid'ah. Beliau mengatakan bahwa bid'ah itu sesat. [2]
_____________________________________
[1] Diambil dan diringkas dari Syarah Hadits Arba'in An-Nawawiyah Karya Imam Nawawi Penerbit As-Salam Publishing dengan sedikit perubahan.
[2] Diambil dan diringkas dari Kitab Tauhid Jilid 1 Karya Syaikh DR. Shalih Bin Fauzan al-Fauzan Penerbit Darul Haq dengan sedikit perubahan.
Komentar
Posting Komentar